Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Saturday, April 23, 2016

Cara Terbaik Untuk Diet

Bila ingin menurunkan berat badan, maka kita harus mengurangi porsi makan alias diet. Begitulah mantra yang selama ini kita dengar. Meski demikian, diet bukanlah cara terbaik untuk langsing.

Mengurangi asupan kalori memang bisa menurunkan berat badan, tetapi hanya dalam jangka pendek dan biasanya nantinya bobot tubuh bisa naik kembali (bahkan lebih dari berat badan semula).

Daripada membatasi asupan makanan, lebih baik fokus pada kualitas makanan dan kapan kita harus makan.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, pastikan kita makan pada tiga waktu makan, yakni pagi, siang, dan malam. Hal ini sering kali diabaikan karena alasan sibuk atau tak mau berat badan bertambah.

Namun, bukan membatasi asupan kalori, melewatkan waktu makan alih-alih lebih mudah membuat kita craving atau kalap pada waktu makan berikutnya sehingga porsi makan pun bertambah besar.

Perut yang kosong karena melewatkan waktu makan juga membuat kita kelaparan atau kelelahan sehingga malas melakukan aktivitas selain duduk.

Mengonsumsi camilan saat kita sedang berupaya menurunkan berat badan tak akan membuat usaha itu gagal total. Yang perlu diperhatikan adalah porsi dan jenisnya. Sebagai pilihan, Anda bisa mengonsumsi camilan rendah kalori yang tetap mengenyangkan, misalnya cookies rendah kalori, buah-buahan, kacang-kacangan, dan yoghurt.
Menghilangkan asupan karbohidrat dan lemak sama sekali juga bukan pilihan yang tepat. Kita bisa mengakali konsumsi karbohidrat ketika berdiet dengan memperbanyak jenis karbohidrat yang berserat tinggi dan rendah gula. Selain menyehatkan pencernaan, kandungan serat di dalamnya juga akan mempertahankan rasa kenyang.
Sementara itu, makanan berlemak tinggi memang harus dihindari, tetapi tidak berarti menghilangkannya sama sekali. Lemak sehat masih diperlukan tubuh karena tubuh dapat memproduksinya sendiri. Sumber lemak sehat antara lain minyak zaitun, alpukat, dan daging putih.

Thursday, April 21, 2016

Tips Sarapan Pagi

Sarapan merupakan waktu makan paling penting dalam sehari. Apa yang kita makan pada pagi hari akan menentukan apakah hari ini kita akan berenergi dan produktif. Oleh karenanya, jangan asal pilih menu sarapan.

Sarapan yang tepat, menurut Diana F.Suganda, dokter spesialis gizi, penting untuk mengganti kebutuhan tubuh setelah tidur semalaman dan perut kosong. Selain itu, kebiasaan sarapan akan mencegah kita mengalami "kalap" saat makan siang.

"Kalau dari pagi perut kosong, saat makan siang kita bisa kalap dan ingin memesan semua makanan. Dengan rutin sarapan, hal itu bisa dihindari sehingga kita bisa menjaga berat badan," katanya dalam acara peluncuran belVita Breakfast di Jakarta (19/4/16).

Dalam sebuah survei terungkap, hampir 56 persen masyarakat Indonesia selalu serapan. Meski demikian, jenis menunya bervariasi, bahkan ada orang yang "sarapan" dengan segelas teh manis.

"Orang Indonesia kebanyakan masih sarapan satu jenis saja, misalnya hanya mi goreng, segelas susu, atau teh manis. Padahal, pada setiap waktu makan kita harus mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh," ujar Diana.

Diana menambahkan, walau waktu sarapan yang dimiliki sedikit, karena harus segera bersiap-siap bekerja, sebenarnya kita tetap bisa memiliki menu sarapan yang sehat dan bergizi seimbang.

Untuk kebutuhan karbohidrat kita bisa mendapatkannya dari bermacam sumber, seperti nasi, mi, roti, kentang, atau sereal. 

Sementara itu, kebutuhan protein bisa didapatkan dari seiris daging, telur, atau pun susu. "Untuk lemaknya, kita bisa mendapatkan dari buah alpukat yang merupakan lemak baik. Tapi, hindari mencampurnya dengan gula atau susu kental manis," kata Diana.

Selain karbohidrat, protein dan lemak, menu sarapan juga sebaiknya mengandung serat. "Mungkin akan repot kalau pagi-pagi sudah masak sayur, tapi kita bisa menggantinya dengan satu buah apel atau pisang. Selain serat ada vitamin dan mineralnya juga," paparnya.

Perlu diingat pula untuk melengkapi menu sarapan dengan segelas air putih atau teh untuk menghidrasi tubuh. 

Seiring dengan padatnya aktivitas masyarakat yang semakin modern, terjadi juga pergeseran pola sarapan. Jika dulu menu sarapan harus dinikmati di meja makan atau rumah makan pinggir jalan, saat ini banyak orang memilih produk siap saji yang praktis dan bisa dikonsumsi dalam perjalanan ke tempat beraktivitas. 

Meski demikian, pilihlah produk makanan yang diperkaya dengan kandungan gizi lengkap. Perhatikan pula kandungan gula dan garam dalam produk tersebut. Jadi, bukan hanya mengenyangkan dan enak, tapi juga memenuhi kebutuhan gizi untuk menjalani hari dengan penuh semangat. 

Monday, April 18, 2016

Cara mencuci Tangan Yang Benar

Hal ini pasti sudah diajarkan kepada Anda sejak Anda masih kecil: Cuci tangan setelah pergi ke kamar mandi, sebelum Anda makan, dan setelah Anda melakukan sesuatu yang kotor.


Sebagian besar dari kita melakukan ajaran ini. Tapi penelitian terbaru menemuka, bahwa ternyata selama ini kita belum melakukan yang terbaik saat mencuci tangan.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Infection Control & Hospital Epidemiology, para ilmuwan dari Universitas Glasgow mengatakan delapan langkah proses cuci tangan yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih baik dalam membunuh kuman dibandingkan proses lima langkah yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Penelitian lain menunjukkan, bahwa kita bahkan tidak berpegang bahwa standar sederhana itu.

Sebagai perbandingan, inilah metode CDC:
1. Basahi tangan dengan bersih, air yang mengalir (hangat atau dingin), matikan keran, dan aplikasikan sabun.
2. Gosok-gosokkan tangan yang sudah bersabun hingga berbusa. Pastikan untuk menyabuni punggung tanga, antara jari-jari dan bawah kuku Anda.
3. Gosok tangan Anda selama minimal 20 detik.
4. Bilas tangan Anda di bawah air bersih yang mengalir.
5. Keringkan tangan Anda menggunakan handuk bersih atau mesin pengering.

Para peneliti di Glasgow melakukan uji coba terkontrol secara acak, di mana mereka meneliti 42 dokter dan 78 perawat mencuci tangan mereka dengan metode CDC dan WHO setelah memeriksapasien.

Para peneliti menemukan, bahwa proses delapan langkah lebih efektif membunuh bakteri tetapi diperlukan 25 persen lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya (42,5 detik vs 35 detik) dan hanya 65 persen orang yang benar-benar bisa menyelesaikan prosesnya.

Langkah mencuci tangan metode WHO:
1. Basahkan tangan dengan air bersih yang mengalir
2. Aplikasikan sabun ke seluruh permukaan tangan
3. Gosok-gosokkan kedua telapak tangan
4. Bersihkan punggung telapak tangan kiri dengan tangan kanan, berikut sela-sela jari. Lakukan hal sebaliknya dengan punggung telapak tangan kanan menggunakan tangan kiri.
5. Satukan kedua telapak tangan dengan jari saling terkait lalu jari-jari saling bergerak membersihkan satu sama lain.
6. Bersihkan punggung ibu jari kanan dengan usapan ibu jari kiri dan sebaliknya
7. Bersihkan telapak tangan kanan dengan menggunakan kelima jari kiri yang disatukan.
8. Basuh tangan dengan air bersih mengalir.
9. Gunakan handuk bersih untuk mematikan kran.
10. Tangan Anda sudah bersih sekarang.

Tapi, apakah kita benar-benar harus melalui manuver rumit tersebut untuk mencuci tangan kita?

Mungkin tidak setiap kali, kata William Schaffner, gelar M.D., spesialis penyakit menular dan profesor di Vanderbilt University School of Medicine.

"Saya sarankan Anda menggunakan metode yang sederhana jika tidak bisa melakukan rekomendasi WHO" katanya. "Metode CDC lebih cepat dan mudah, dan orang-orang lebih bisa melakukannya."

Kristine Arthur, M.D., seorang internis di California Orange Coast Memorial Medical Center mengatakan, "Mencuci tangan adalah cara yang termurah dan paling efektif untuk mengurangi penyebaran kuman."

Arthur mengatakan mencuci tangan dapat mencegah penyebaran kuman kecil, seperti kuman penyebab pilek dan flu. Juga untuk kuman yang lebih serius seperti ecoli, salmonella, dan campylobacter.

Sebagian besar dari kita tidak mencuci tangan kita dengan benar, baik dengan metode CDC maupun WHO.

Menurut laporan dari Michigan State University tahun 2013, hanya lima persen orang yang mencuci tangan mereka cukup lama dan benar untuk membunuh kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.

Jika Anda tidak memiliki cukup waktu untuk, Arthur merekomendasikan Anda menggunakan beberapa trik dari metode WHO, seperti menjalinkan jari-jari Anda saat Anda menggosok dan membersihkan bawah kuku Anda.

"Anda tidak harus melakukan proses delapan langkah WHO sepenuhnya jika tidak cukup waktu, tapi juga jangan hanya menaruh tangan Anda di bawah air," katanya. "Hal seperti itu tidak akan cukup untuk membersihkan kuman."

Sunday, April 17, 2016

Tips Main Gadget agar Mata Tetap Sehat

Penting kita ketahui, gangguan mata pada anak akibat gadget semakin bertambah. Hal yang dapat terjadi antara lain kelelahan pada mata (astenopia), mata kering, dan rabun jauh (miopia).

Mata lelah (astenopia) dapat terjadi karena pada saat anak menggunakan gadget, mata anak akan berakomodasi.

Apabila mata berakomodasi dalam waktu yang cukup lama, otot-otot mata akan mengalami kelelahan. Kondisi mata lelah ini akan mengakibatkan gejala pusing, pandangan buram, dan pandangan ganda (double).

Mata kering terjadi karena saat menggunakan gadget refleks berkedip akan menurun. Hal ini mengakibatkan mata menjadi pedih, berair, terasa panas, dan merah. Hal ini juga akan membuat pandangan menjadi kabur.

Sementara rabun jauh (myopia) terjadi karena mata melihat obyek yang dekat secara berlebihan. Hal ini menyebabkan titik fokus mata untuk melihat jauh menjadi berkurang.

Sebenarnya gawai tidak secara langsung menimbulkan rabun jauh, namun aktivitas melihat dekat yang dilakukan secara berlebihanlah yang menyebabkan terjadinya rabun jauh.

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya rabun jauh, disarankan agar anak-anak dapat meningkatkan aktivitas di luar rumah agar mata bisa beristirahat (tidak berakomodasi secara terus menerus).

Lalu, bagaimana aturan ber-gadget agar mata anak tetap sehat? Berikut kiatnya:

1. Penggunaan gadget pada anak sebaiknya dibatasi maksimal 2 jam sehari, termasuk bermain game, menonton teve, menatap layar komputer/laptop/ponsel.

2. Penggunaan gadget sebaiknya tidak dilakukan dalam satu waktu. Maksudnya, setiap 30 menit menatap layar sebaiknya diselingi dulu dengan aktivitas melihat jauh (lebih dari 6 meter). Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan pada mata.

Bisa juga diterapkan aturan 20-20, yaitu 20 menit menatap layar gawai, 20 detik beristirahat (melihat obyek jauh dengan jarak lebih dari 6 meter).

3. Jarak pandang mata ke gawai juga harus diperhatikan. Jarak yang baik antara mata dengan gadget adalah sekitar 30-40 cm. Usahakan juga agar posisi gadget lebih rendah dari posisi mata, yaitu membentuk sudut sekitar 15?.

4. Hindari membiasakan bermain gadget sambil tiduran. Apabila sedang menonton teve usahakan agar anak tidak terlalu dekat dengan layar teve.

5. Jarak yang baik untuk menonton televisi adalah sekitar 4-5x diagonal teve.

6. Pencahayaan gadget sebaiknya tidak terlalu terang. Pasalnya, pencahayaan yang terlalu terang dapat mempercepat timbulnya mata lelah.

7. Pencahayaan ruangan juga harus diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu kontras dengan pencahayaan dari gawai. Ruangan yang terlalu redup akan menyebabkan kontras yang berlebihan sehingga akan membuat mata menjadi tidak nyaman.

8. Pada saat anak sedang berkonsentrasi menggunakan gawai, refleks berkedip akan berkurang. Hal ini menyebabkan mata menjadi kering. Oleh karena itu, ingatkan anak agar berkedip secara teratur saat sedang menggunakan gadget.

9. Tak kalah penting, hindari membaca sambil tiduran, hindari membaca di tempat gelap, istirahat yang cukup dan rajin mengonsumsi sayur dan buah karena baik untuk kesehatan mata.

Monday, April 4, 2016

Cara membuat Wanita Orgasme Berkali-kali

SEBELUMNYA dikatakan wanita punya kemampuan lebih untuk orgasme daripada laki-laki. Namun, hanya 47 persen wanita yang mengaku pernah orgasme beberapa kali, menurut sebuah studi baru dari peneliti di Indiana University.
Dalam studi, peneliti meminta para wanita yang mengaku bisa memiliki beberapa orgasme untuk memberitahu bagaimana mereka bisa melakukannya. Dan rahasia besar mereka adalah melakukan stimulasi klitoris berulang setelah klimaks pertama mereka.
Pertama, sebagai latar belakang, tiga perempat dari wanita butuh atau memang lebih menyukai rangsangan klitoris untuk mencapai orgasme, menurut penelitian ini. Tapi bagi banyak wanita, klitoris menjadi terlalu sensitif setelah klimaks dan terus menyentuhnya bisa menyakitkan. Itu sebabnya banyak wanita berpikir mereka tidak bisa orgasme bekali-kali.
Jika pasangan Anda ingin mencoba untuk klimaks ronda kedua, Anda para pria dapat memainkan sensitivitas pasca-klimaks. Ini bisa dilakukan dengan menyentuh klitorisnya dengan tekanan lembut atau gerakan lambat,

Cara Menjaga Kesehatan Mr.p


TAK melulu wanita saja yang harus menjaga kesehatan kelamin, pria pun dituntut melakukan hal sama. Kalau Anda tidak tahu caranya, lakukanlah kiat-kiat sederhana berikut ini.
Jauhi minuman alkohol

Minuman beralkohol dapat menyebabkan kontraproduktif untuk hormon seks Anda. Bir, khususnya, minuman ini dapat mengganggu kadar testosteron Anda.
Penuhi nutrisi lemak tak jenuh

Mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tak jenuh tunggal, seperti ikan dan minyak zaitun adalah salah satu cara tercepat untuk meningkatkan kadar testosteron pada pria. Penuhi nutrisi ini ke dalam diet harian Anda dengan optimal.
Jauhi gula

Gula adalah salah satu asupan utama yang membuat pria mengalami diabetes. Akibatnya, hormon seks Anda kualitasnya menurun dan kadar testosteron pun menjadi lemah.
Makan banyak sayuran

Makan aneka sayuran seperti brokoli, kembang kol dan kubis membantu Anda meningkatkan testosteron dan mempertahankan keseimbangan hormon tubuh dengan baik.

Friday, March 25, 2016

Tips Awet Muda Di Hari Tua

Orang tua dengan banyak aktivitas cenderung memiliki lebih banyak daerah abu-abu, komponen utama dari sistem saraf pusat di otak mereka ketimbang rekan-rekan yang kurang aktif.
Rutin bergerak di sekitar rumah, berjalan santai, atau berlari, ibarat “mengawetkan” struktur otak, bahkan untuk individu dengan gejala ringan dan berat penurunan mental,” kata penulis studi James T. Becker, profesor psikiatri di University of Pittsburgh School of Medicine.
Para peneliti menganalisis data dari sebuah studi kesehatan jantung jangka panjang dari 876 orang berusia 65 tahun dan lebih tua.
Para responden menjalani penilaian kognitif, volumetrik pencitraan otak, dan menjawab kuesioner tentang kegiatan mereka sehari-hari. Peneliti juga mengukur volume daerah abu-abu pada responden.
Setelah memerhitungkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi volume otak, termasuk ukuran kepala, usia, jenis kelamin, daerah putih di otak, kerusakan kognitif ringan dan status Alzheimer, para peneliti menemukan bahwa pembakaran kalori yang lebih tinggi dikaitkan dengan volume daerah abu-abu yang lebih besar di otak responden, menurut hasil Journal of Alzheimer.
Dengan kata lain, aktif di hari tua membuat seseorang tidak gampang pikun, tetap bisa berpikir tajam, dan rasional.
“Pengeluaran energi dikaitkan dengan pelepasan substansi yang dikenal sebagai faktor neurotropik otak atau brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang mempromosikan pertumbuhan dan diferensiasi neuron baru di otak,” kata Becker.
Volume daerah abu-abu di otak biasanya menyusut seiring dengan usia. Tetapi, penelitian ini telah menunjukkan, bahwa bergerak dan membakar kalori terkait dengan peningkatan BDNF yang dapat membantu sejumlah daerah abu-abu di otak tetap awet muda.
"Data kami menunjukkan, tidak peduli apa aktivitasnya, selama kita membakar banyak kalori, maka itu akan berpengaruh," lanjut Becker. “Namun, lebih aktif dalam lingkungan sosial mungkin lebih efektif ketimbang hanya berjalan di treadmill saja.”
Leandro Fornias Machado de Rezende dari departemen kedokteran di University of Sao Paulo School of Medicine di Brazil, yang bukan bagian penelitian menanggapi, "walau begitu, aktivitas fisik adalah multidimensi, tidak hanya pengeluaran kalori saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga aktivitas sosial, mental, dan kegiatan emosional yang terlibat.
”Dalam hal ini, pencegahan penyakit Alzheimer melalui aktivitas fisik harus dipahami dalam pandangan yang lebih luas," lanjut Rezende Reuters Health melalui email.

Cara Mencegah Alergi Pada Anak

Alergi merupakan masalah yang kerap terjadi pada bayi atau anak. Umumnya, alergi diturunkan dari orangtua kepada anak. Namun, menurut Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, Sp. A (K) dari Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, alergi sebenarnya bisa dicegah.
"Pencegahan bisa dimulai dari waktu kehamilan, hingga bayinya lahir," kata Budi dalam acara Nutritalk di Jakarta, Kamis (24/3/2016).
Budi mengatakan, pencegahan dari sisi lingkungan, yaitu hindari paparan asap rokok saat hamil. Tak hanya memicu alergi di kemudian hari, asap rokok juga bisa membahayakan perkembangan janin. Kemudian saat lahir, berilah bayi ASI eksklusif selama 6 bulan.
"Asi susu ibu terbaik untuk pencegahan alergi. Ibu bebas makan apa saja, walau anak risiko tinggi alergi. Kecuali memang makanan itu alergi buat ibunya," terang Budi.
Budi menjelaskan, alergen pada ASI sangat sedikit karena ASI menginduksi toleransi. Setelah enam bulan, lanjutkan dengan makanan pendamping ASI atau pengenalan makanan padat. Setelah usia 6 bulan, perkenalkan anak dengan berbagai macam makanan padat.
Akan tetapi, lain cerita jika ibu tidak bisa memberikan ASI dan terpaksa diberi susu formula dengan alasan medis. Untuk mencegah alergi protein susu sapi, susu formula yang diberikan adalah dengan protein terhidrolisis parsial.
Protein terhidrolisis parsial adalah protein yang telah dipotong-potong, sehingga lebih mudah dicerna oleh anak.
Budi mengungkapkan, alergi bisa muncul jika anak memiliki bakat alergi, karena turunan dari orangtua dan adanya faktor lingkungan.
Sebelumnya, ketahui dulu apakah ada riwayat alergi di keluarga. Jika ada salah satu orangtua yang alergi, anak berisiko alergi sebesar 40 persen. Jika kedua orangtua alergi, risiko alergi pada anak meningkat 60 persen.
Risiko meningkat 80 persen jika orangtua memiliki alergi yang sama. Sementara itu, jika saudara kandung memiliki alergi, kemungkinan anak alergi mencapai 30 persen. Begitupun jika tidak ada riwayat alergi, anak tetap berisiko sebesar 5 persen.
"Untuk tahu faktor genetik, hanya cukup menanyakan apakah ada riwayat alergi pada bapak, ibu, dan saudara. Tidak perlu sampai kakek, nenek," ujar Budi.